Tampilkan postingan dengan label Soekarno. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Soekarno. Tampilkan semua postingan

Perjanjian The Green Hilton

[postlink] http://videogpn.blogspot.com/2012/07/perjanjian-green-hilton.html[/postlink] http://www.youtube.com/watch?v=-GXSJIIpQSUendofvid

[starttext]
Mungkin belum banyak yang tahu kalau ada sebuah perjanjian maha penting yang dibuat Presiden I RI Ir Soekarno dan Presiden ke 35 AS John Fitzgerald Kennedy. Konon penembakan John F Kennedy pada November 1963 yang membuatnya tewas secara tragis lantaran menandatangani perjanjian tersebut.

Konon pula penggulingan Ir Soekarno dari kursi kepresidenan wajib dilakukan jaringan intelijen AS disponsori komplotan Jahudi (Zionis Internasional) yang tidak mau AS bangkrut dan hancur karena mesti mematuhi perjanjian tersebut juga tidak rela melihat RI justru menjadi kuat secara ekonomi di samping modal sumber daya alamnya yang semakin menunjang kekuatan ekonomi RI. selain itu ada beberapa tujuan lain yang harus dilaksanakan sesuai agenda Zionis Internasional. Berikut ini saya coba tulis hasil penelusuran pada tahun 1994 s/d 1998, berlanjut tahun 2006 s/d 2010, ditambah informasi dari beberapa sumber. Tapi mohon diingat, anggap saja tulisan ini hanya penambah wawasan belaka.

Perjanjian itu biasa disebut sebagai salah satu ’Dana Revolusi’, atau ’Harta Amanah Bangsa Indonesia’, atau pun ’Dana Abadi Ummat Manusia’. Sejak jaman Presiden Soeharto hingga Presiden Megawati cukup getol menelisik keberadaannya dalam upaya mencairkannya.

Perjanjian The Green Hilton Memorial Agreement Geneva dibuat dan ditandatangani pada 21 November 1963 di hotel Hilton Geneva oleh Presiden AS John F Kennedy (beberapa hari sebelum dia terbunuh) dan Presiden RI Ir Soekarno dengan saksi tokoh negara Swiss William Vouker. Perjanjian ini menyusul MoU diantara RI dan AS tiga tahun sebelumnya. Point penting perjanjian itu; Pemerintahan AS (selaku pihak I) mengakui 50 persen keberadaan emas murni batangan milik RI, yaitu sebanyak 57.150 ton dalam kemasan 17 paket emas dan pemerintah RI (selaku pihak II) menerima batangan emas itu dalam bentuk biaya sewa penggunaan kolateral dolar yang diperuntukkan pembangunan keuangan AS.

Dalam point penting lain pada dokumen perjanjian itu, tercantum klausul yang memuat perincian ; atas penggunaan kolateral tersebut pemerintah AS harus membayar fee 2,5 persen setiap tahunnya sebagai biaya sewa kepada Indonesia, mulai berlaku jatuh tempo sejak 21 November 1965 (dua tahun setelah perjanjian). Account khusus akan dibuat untuk menampung asset pencairan fee tersebut. Maksudnya, walau point dalam perjanjian tersebut tanpa mencantumkan klausul pengembalian harta, namun ada butir pengakuan status koloteral tersebut yang bersifat sewa (leasing). Biaya yang ditetapkan dalam dalam perjanjian itu sebesar 2,5 persen setiap tahun bagi siapa atau bagi negara mana saja yang menggunakannya.

Biaya pembayaran sewa kolateral yang 2,5 persen ini dibayarkan pada sebuah account khusus atas nama The Heritage Foundation (The HEF) yang pencairannya hanya boleh dilakukan oleh Bung Karno sendiri atas restu Sri Paus Vatikan. Sedang pelaksanaan operasionalnya dilakukan Pemerintahan Swiss melalui United Bank of Switzerland (UBS). Kesepakatan ini berlaku dalam dua tahun ke depan sejak ditandatanganinya perjanjian tersebut, yakni pada 21 November 1965.

Namun pihak-pihak yang menolak kebijakan John F. Kennedy menandatangani perjanjian itu, khususnya segelintir kelompok Zionis Internasional yang sangat berpengaruh di AS bertekat untuk menghabisi nyawa dan minimal karir politik kedua kepala negara penandatangan perjanjian itu sebelum masuk jatuh tempo pada 21 November 2965 dengan tujuan menguasai account The HEF tersebut yang berarti menguasai keuangan dunia perbankan.

Target sasaran pertama, ’menyelesaikan’ pihak I selaku pembayar, yakni membuat konspirasi super canggih dengan ending menembak mati Presiden AS JF Kennedy itu dan berhasil. Sudah mati satu orang penandatangan perjanjian, masih seorang lagi sebagai target ke II, yakni Ir Soekarno. Kaki tangan kelompok Zionis Internasional yang sejak awal menentang kesepakatan perjanjian itu meloby dan menghasut CIA dan Deplu AS untuk menginfiltrasi TNI-AD yang akhirnya berpuncak pada peristiwa G30S disusul ’penahanan’ Soekarno’ oleh rezim Soeharto. Apesnya lagi, Soekarno tidak pernah sempat memberikan mandat pencairan fee penggunaan kolateral AS itu kepada siapa pun juga !! Hingga beliau almarhum beneran empat tahun kemudian dalam status tahanan politik.

Sedangkan kalangan dekat Bung Karno maupun pengikutnya dipenjarakan tanpa pengadilan dengan tudingan terlibat G30S oleh rezim Soeharto. Mereka dipaksa untuk mengungkapkan proses perjanian itu dan bagaimana cara mendapatkan harta nenek moyang di luar negeri itu. Namun usaha keji ini tidak pernah berhasil.

Hal Ikhwal Perjanjian

Sepenggal kalimat penting dalam perjanjian tersebut => ”Considering this statement, which was written andsigned in Novemver, 21th 1963 while the new certificate was valid in 1965 all the ownership, then the following total volumes were justobtained.”

Perjanjian hitam di atas putih itu berkepala surat lambing Garuda bertinta emas di bagian atasnya dan berstempel ’The President of The United State of America’ dan ’Switzerland of Suisse’.

Berbagai otoritas moneter maupun kaum Monetarist, menilai perjanjian itu sebagai fondasi kolateral ekonomi perbankan dunia hingga kini. Ada pandangan khusus para ekonom, AS dapat menjadi negara kaya karena dijamin hartanya ’rakyat Indonesia’, yakni 57.150 ton emas murni milik para raja di Nusantara ini. Pandangan ini melahirkan opini kalau negara AS memang berutang banyak pada Indonesia, karena harta itu bukan punya pemerintah AS dan bukan punya negara Indonesia, melainkan harta raja-rajanya bangsa Indonesia.

Bagi bangsa AS sendiri, perjanjian The Green Hilton Agreement merupakan perjanjian paling tolol yang dilakukan pemerintah AS. Karena dalam perjanjian itu AS mengakui asset emas bangsa Indonesia. Sejarah ini berawal ketika 350 tahun Belanda menguasai Jawa dan sebagian besar Indonesia. Ketika itu para raja dan kalangan bangsawan, khususnya yang pro atau ’tunduk’ kepada Belanda lebih suka menyimpan harta kekayaannya dalam bentuk batangan emas di bank sentral milik kerajaan Belanda di Hindia Belanda, The Javache Bank (cikal bakal Bank Indonesia). Namun secara diam-diam para bankir The Javasche Bank (atas instruksi pemerintahnya) memboyong seluruh batangan emas milik para nasabahnya (para raja-raja dan bangsawan Nusantara) ke negerinya di Netherlands sana dengan dalih keamanannya akan lebih terjaga kalau disimpan di pusat kerajaan Belanda saat para nasabah mempertanyakan hal itu setelah belakangan hari ketahuan.

Waktu terus berjalan, lalu meletuslah Perang Dunia II di front Eropa, dimana kala itu wilayah kerajaan Belanda dicaplok pasukan Nazi Jerman. Militer Hitler dan pasukan SS Nazi-nya memboyong seluruh harta kekayaan Belanda ke Jerman. Sialnya, semua harta simpanan para raja di Nusantara yang tersimpan di bank sentral Belanda ikut digondol ke Jerman.

Perang Dunia II front Eropa berakhir dengan kekalahan Jerman di tangan pasukan Sekutu yang dipimpin AS. Oleh pasukan AS segenap harta jarahan SS Nazi pimpinan Adolf Hitler diangkut semua ke daratan AS, tanpa terkecuali harta milik raja-raja dan bangsawan di Nusantara yang sebelumnya disimpan pada bank sentral Belanda. Maka dengan modal harta tersebut, Amerika kembali membangun The Federal Reserve Bank (FED) yang hampir bangkrut karena dampak Perang Dunia II, oleh ’pemerintahnya’ The FED ditargetkan menjadi ujung tombak sistem kapitalisme AS dalam menguasai ekonomi dunia.

Belakangan kabar ’penjarahan’ emas batangan oleh pasukan AS untuk modal membangun kembali ekonomi AS yang sempat terpuruk pada Perang Dunia II itu didengar pula oleh Ir Soekarno selaku Presiden I RI yang langsung meresponnya lewat jalur rahasia diplomatic untuk memperoleh kembali harta karun itu dengan mengutus Dr Subandrio, Chaerul saleh dan Yusuf Muda Dalam walaupun peluang mendapatkan kembali hak sebagai pemilik harta tersebut sangat kecil. Pihak AS dan beberapa negara Sekutu saat itu selalu berdalih kalau Perang Dunia masuk dalam kategori Force Majeur yang artinya tidak ada kewajiban pengembalian harta tersebut oleh pihak pemenang perang.

Namun dengan kekuatan diplomasi Bung Karno akhirnya berhasil meyakinkan para petinggi AS dan Eropa kalau asset harta kekayaan yang diakuisisi Sekutu berasal dari Indonesia dan milik Rakyat Indonesia. Bung Karno menyodorkan fakta-fakta yang memastikan para ahli waris dari nasabah The Javache Bank selaku pemilik harta tersebut masih hidup !!

Nah, salah satu klausul dalam perjanjian The Green Hilton Agreement tersebut adalah membagi separoh separoh (50% & 50%) antara RI dan AS-Sekutu dengan ’bonus belakangan’ satelit Palapa dibagi gratis oleh AS kepada RI. Artinya, 50 persen (52.150 ton emas murni) dijadikan kolateral untuk membangun ekonomi AS dan beberapa negara eropa yang baru luluh lantak dihajar Nazi Jerman, sedang 50 persen lagi dijadikan sebagai kolateral yang membolehkan bagi siapapun dan negara manapun untuk menggunakan harta tersebut dengan sistem sewa (leasing) selama 41 tahun dengan biaya sewa per tahun sebesar 2,5 persen yang harus dibayarkan kepada RI melalui Ir.Soekarno. Kenapa hanya 2,5 persen ? Karena Bun Karno ingin menerapkan aturan zakat dalam Islam.

Pembayaran biaya sewa yang 2,5 persen itu harus dibayarkan pada sebuah account khusus a/n The Heritage Foundation (The HEF) dengan instrumentnya adalah lembaga-lembaga otoritas keuangan dunia (IMF, World Bank, The FED dan The Bank International of Sattlement/BIS). Kalau dihitung sejak 21 November 1965, maka jatuh tempo pembayaran biaya sewa yang harus dibayarkan kepada RI pada 21 November 2006. Berapa besarnya ? 102,5 persen dari nilai pokok yang banyaknya 57.150 ton emas murni + 1.428,75 ton emas murni = 58.578,75 ton emas murni yang harus dibayarkan para pengguna dana kolateral milik bangsa Indonesia ini.

Padahal, terhitung pada 21 November 2010, dana yang tertampung dalam The Heritage Foundation (The HEF) sudah tidak terhitung nilainya. Jika biaya sewa 2.5 per tahun ditetapkan dari total jumlah batangan emasnya 57.150 ton, maka selama 45 tahun X 2,5 persen = 112,5 persen atau lebih dari nilai pokok yang 57.150 ton emas itu, yaitu 64.293,75 ton emas murni yang harus dibayarkan pemerintah AS kepada RI. Jika harga 1 troy once emas (31,105 gram emas ) saat ini sekitar 1.500 dolar AS, berapa nilai sewa kolateral emas sebanyak itu ?? Hitung sendiri aja !!

Mengenai keberadaan account The HEF, tidak ada lembaga otoritas keuangan dunia manapun yang dapat mengakses rekening khusus ini, termasuk lembaga pajak. Karena keberadaannya yang sangat rahasia. Makanya, selain negara-negara di Eropa maupun AS yang memanfaatkan rekening The HEF ini, banyak taipan kelas dunia maupun ’penjahat ekonomi’ kelas paus dan hiu yang menitipkan kekayaannya pada rekening khusus ini agar terhindar dari pajak. Tercatat orang-orang seperti George Soros, Bill Gate, Donald Trump, Adnan Kasogi, Raja Yordania, Putra Mahkota Saudi Arabia, bangsawan Turko dan Maroko adalah termasuk orang-orang yang menitipkan kekayaannya pada rekening khusus tersebut.

George Soros dengan dibantu ole CIA berusaha untuk membobol account khusus tersebut. Bahkan, masih menurut sumber yang bisa dipercaya, pada akhir 2008 lalu, George Soros pernah mensponsori sepasukan kecil yang terdiri dari CIA dan MOSSAD mengadakan investigasi rahasia dengan berkeliling di pulau Jawa demi untuk mendapatkan user account dan PIN The HEF tersebut.

Selain itu, George Soros dibantu dinas rahasia CIA pernah berusaha membobol account khusus tersebut, namun gagal. Bahkan akhir 2008 lalu, George Soros pernah mensponsori sepasukan kecil agen CIA dan MOSSAD (agen rahasia Israel) mengadakan investigasi rahasia dengan berkeliling di pulau Jawa demi untuk mendapatkan user account dan PIN The HEF tersebut termasuk untuk mencari tahu siapa yang diberi mandat Ir Soekarno terhadap account khusus itu. Padahal Ir Soekarno atau Bung Karno tidak pernah memberikan mandat kepada siapa pun. artinya pemilik harta rakyat Indonesia itu tunggal, yakni Bung Karno sendiri. Sampai saat ini !!

Penjahat Perbankan Internasional Manfaatkan Saat Ada Bencana Alam Besar

Sialnya, CUSIP Number (nomor register World Bank) atas kolateral ini bocor. Nah, CUSIP inilah yang kemudian dimanfaatkan kalangan bankir papan atas dunia yang merupakan penjahat kerah putih (white collar crime) untuk menerbitkan surat-surat berharga atas nama orang-orang Indonesia. Pokoknya siapa pun dia, asal orang Indonesia berpassport Indonesia dapat dibuatkan surat berharga dari UBS, HSBC dan bank besar dunia lainnya. Biasanya terdiri dari 12 lembar, diantaranya ada yang berbentuk Proof of Fund, SBLC, Bank Guaranted, dan lainnya. Nilainya pun fantastis, rata-rata di atas 500 juta dolar AS hingga 100 miliyar dolar AS.

Ketika dokumen tersebut dicek, maka kebiasaan kalangan perbankan akan mengecek CUSIP Number. Jika memang berbunyi, maka dokumen tersebut dapat menjalani proses lebih lanjut. Biasanya kalangan perbankan akan memberikan bank officer khusus bagi surat berharga berformat Window Time untuk sekedar berbicara sesama bank officer jika dokumen tersebut akan ditransaksikan. Sesuai prosedur perbankan, dokumen jenis ini hanya bisa dijaminkan atau dibuatkan rooling program atau private placement yang bertempo waktu transaksi hingga 10 bulan dengan High Yield antara 100 persen s/d 600 persen per tahun.

Nah, uang sebesar itu hanya bisa dicairkan untuk proyek kemanusiaan. Makanya, ketika terjadi musibah Tsunami di Aceh dan gempa di DIY, maka dokumen jenis ini beterbangan sejagat raya bank. Brengseknya, setiap orang Indonesia yang namanya tercantum dalam dokumen itu, masih saja hidup miskin blangsak sampai sekarang. Karena memang hanya permainan bandit bankir kelas hiu yang mampu mengakali cara untuk mencairkan aset yang terdapat dalam rekening khusus itu.

Di sisi lain, mereka para bankir curang juga berhasil membentuk opini, dimana sebutan ’orang stress’, sarap atau yang agak halus ’terobsesi’ kerap dilontarkan apabila ada seseorang yang mengaku punya harta banyak, miliyaran dollar AS yang berasal dari Dana Revolusi atau Harta Amanah Bangsa Indonesia. Opini yang terbentuk ini bagi pisau bermata dua, satu sisi menguntungkan bagi keberadaan harta yang ada pada account khusus tersebut tidak terotak-atik, namun sisi lainnya para bankir bandit dapat memanfaatkannya demi keuntungan pribadi dan komplotannya ketika ada bencana alam besar di dunia, seperti bencana Tsunami di Jepang baru-baru ini. Tapi yang paling berbahaya, tidak ada pembelaan rakyat, negara dan pemerintah Indonesia ketika harta ini benar-benar ada dan mesti diperjuangkan bagi kemakmuran rakyat Indonesia.

Kaitannya dengan Satria Piningit, Satrio Pinandito Sinisihan Wahyu, Ratu Adil

Penulis punya pengertian, ketika Satrio Piningit sudah melaksanakan fungsinya sebagai pemimpin maka beliau menjadi Satrio Pinandito Sinisihan Wahyu (SPSW) karena kecintaannya yang teramat sangat kepada TUHAN ALLAH.

Takut akan TUHAN dengan mencintai-NYA dengan segenap hatinya menjadi awal setiap langkah beliau dalam melaksanakan tugas membawa rakyat Nusantara maupun umat manusia menuju kesejahteraan dan kemakmuran yang hakiki. Ketika semua umat manusia pada umumnya dan rakyat Nusantara pada khususnya sudah mendapatkan kesejahteraan dan kemakmuran yang hakiki itu, maka beliau mendapat sebutan sang Ratu Adil.

Kami juga berkeyakinan, sang SPSW yang mampu mendapatkan kembali harta abadi rakyat Nusantara, bagaimana pun prosesnya. Karena kepemimpinannya memang mendapat bimbingan langsung TUHAN Pemilik Semesta Alam. Semua harta itu akan diserahkan kepada negara yang dipimpinnya untuk dikelola demi kesejahteraan dan kemakmuran segenap pemilik sejatinya, yakni bangsa Nusantara ini !!
[endtext]

Bukti Keberadaan Harta Karun Soekarno

[postlink] http://videogpn.blogspot.com/2012/07/bukti-keberadaan-harta-karun-soekarno.html[/postlink] http://www.youtube.com/watch?v=dt4s_zK-0BIendofvid

[starttext]
Klaim seseorang memiliki harta peninggalan Presiden Soekarno sudah sering terdengar. Setelah diselidiki, pengakuan semacam itu biasanya tak lebih dari klaim tanpa bukti. Kini, klaim semacam itu muncul dari Bolaang Mongondow, Sulawesi Utara. Seorang kakek mengaku memiliki sejumlah emas batangan dan surat berharga kekayaan Republik Indonesia. Benda berharga itu, diakui si kakek, tersimpan di sebuah bank di Swiss.

Zakaria Sukaria Pota, nama kakek itu, mengaku kini berusia 126 tahun. Bagi warga Sulawesi Utara, nama Zakaria Sukaria Pota berarti 'Berubah-ubah Wajah'. Agar orang percaya, Zakaria menunjukkan pedang dan pisau emas dan empat emas batangan. Diperlihatkan pula tongkat komando, yang menurut Zakaria, milik mendiang Presiden Soekarno.

Tak hanya itu, Zakaria mengklaim memiliki obligasi yang dicap Garuda dengan tinta emas. Nilainya? Jangan kaget, menurut Zakaria, mencapai triliunan rupiah. Surat berharga itu siap dicairkan di sebuah bank internasional.

Obligasi tersebut tersimpan di pedang sepanjang dua meter berbahan emas. Si kakek sendiri mengaku mendapat kuasa Sang Proklamator untuk mencairkan uang di bank di Swiss supaya diberikan kepada negara.

Zakaria bersedia menunjukkan harta karun lain berupa batangan emas, logam mulia, dan senjata. Kesemua benda berharga itu peninggalan Jepang. Zakaria mengaku pernah menghuni Istana zaman Soekarno. Selain tongkat komando, Zakaria mengaku menyimpan baju panglima Soekarno dan tusuk konde Ibu Fatmawati, istri Soekarno. Belum lagi keris, batangan emas, dan telur. Percayakah Anda
[endtext]

Kharismatik Bung Karno

[postlink] http://videogpn.blogspot.com/2012/07/kharismatik-bung-karno.html[/postlink] http://www.youtube.com/watch?v=8-hGaihb6RUendofvid

[starttext]
Kharismatik Bung Karno sebagai Presiden Indonesia sangat disegani semua bangsa dan negara di dunia, Bung Karno benar-benar memanfaatkan posisi Indonesia sebagai negara besar dan strategis, termasuk pesona dan daya pikat personalnya yang luar biasa itu, menjadi sebuah "value added" dalam diplomasi internasional Indonesia. Kebijakan politik luar negeri Indonesia yang high profile ala Bung Karno, tak pelak membuat suara Indonesia dan rakyat Dunia Ketiga terdengar nyaring ke seantero penjuru dunia.

Dalam urusan "bersih diri", Bung Karno tercatat sebagai pemimpin yang tak memilki secuil pun aset bisnis atau rekening di Swiss. Dalam soal "martabat bangsa", ia sosok yang berani mengatakan "tidak" di hadapan Barat. "Go to hell with your aid" adalah ungkapan terkenal Bung Karno pada Amerika yang mencoba menekan Indonesia melalui "diplomasi ekonomi".

Kebesaran Bung Karno, dalam rentang kesadaran rakyatnya, tak cuma bisa dipahami sebatas logika. Ia telah menelusuk jauh ke wilayah belief, sebuah penerimaan emosional atas dirinya. Bung Karno tak cuma legendaris, akan tetapi telah menjadi sosok yang seringkali dimaknai secara hyperreality: dimitoskan, dikultuskan, didewakan. Orang Bali meyakininya sebagai "titisan Dewa Wishnu", sementara orang Jawa melihatnya sebagai "sang Ratu Adil"....
[endtext]

John F. Kennedy & Ir.Soekarno

[postlink] http://videogpn.blogspot.com/2012/07/john-f-kennedy-irsoekarno.html[/postlink] http://www.youtube.com/watch?v=9t2GDBKI9I8endofvid

[starttext]
September 12, 1961 - Meeting with President Ahmed Sukarno of Indonesia and President Modibo Keita of Mali.
October 6, 1961 - Meeting with Soviet Foreign Minister Andrei Gromyko.
October 7, 1961 - President Kennedy flies to Quonset Point Rhode Island and arrives at Hammersmith Farm, Newport, Rhode Island. The President cruises aboard the Honey Fitz with Jacqueline and Caroline Kennedy.
October 21, 1961 President Kennedy welcomes President William Tubman of Liberia.
[endtext]

SUKARNO go INTERNATIONAL!

[postlink] http://videogpn.blogspot.com/2012/07/sukarno-go-international.html[/postlink] http://www.youtube.com/watch?v=Tkya6yNs_4Yendofvid

[starttext]
Seribu orang tua hanya dapat bermimpi, satu orang pemuda dapat mengubah dunia.
[endtext]

PIDATO LENGKAP SUKARNO TH 1963

[postlink] http://videogpn.blogspot.com/2012/07/pidato-lengkap-sukarno-th-1963.html[/postlink] http://www.youtube.com/watch?v=fo7lHCtFvcMendofvid

[starttext]
BUNG KARNO bukanlah seorang Pemikir saja, tetapi ia adalah seorang Visioner. Dan, visi itu menjadi beban yang mesti dipikulnya. Seorang pemikir bekerja dengan fakta dan data. Hasil pemikirannya sangat logis. Seperti matematika saja, satu plus satu mesti dua. Tidak bisa tiga. Namun, seorang visioner melihat di balik fakta. Satu plus satu tidak menjadi dua.
[endtext]

Soekarno Pidato Tentang SUPERSEMAR

[postlink] http://videogpn.blogspot.com/2012/07/soekarno-pidato-tentang-supersemar.html[/postlink] http://www.youtube.com/watch?v=HjYlmqTRAp4endofvid

[starttext]
The Supersemar, the Indonesian abbreviation for Surat Perintah Sebelas Maret (Order of March the Eleventh) was a document signed by the Indonesian President Sukarno on 11 March 1966, giving the Army commander Lt. Gen. Suharto authority to take whatever measures he "deemed necessary" to restore order to the chaotic situation during the Indonesian killings of 1965–66. The abbreviation "Supersemar" is a play on the name of Semar, the mystic and powerful figure who commonly appears in Javanese wayang puppet shows. The invocation of Semar was presumably intended to help draw on Javanese mythology to lend support to Suharto's legitimacy during the period of the transition of authority from Sukarno to Suharto.

In effect, the Supersemar came to be seen as the key instrument of the transfer of executive power from Sukarno to Suharto......
[endtext]

Soekarno Pidato di Depan Rakyat

[postlink] http://videogpn.blogspot.com/2012/07/soekarno-pidato-di-depan-rakyat.html[/postlink] http://www.youtube.com/watch?v=4manHf7iAhgendofvid

[starttext]
Satu plus satu bisa menjadi sebelas. Tambahkan Amerika Serikat pada Ethiopia -- maka hasilnya sudah pasti bukanlah dua negara -- tetapi kekuatan yang dahsyat. Bung Karno melihat Barat sebagai satu kesatuan.

Kesatuan yang memiliki perekat materi yang sangat kuat. Selama ratusan tahun, negara-negara Barat menjarah Timur. Kekayaan mereka adalah hasil rampasan. Bagaimana mengimbangi mereka? Maka, ia memunculkan ide Persatuan Asia dan Afrika. Saat itu, Nehru yang sama-sama visioner pun masih bertanya-tanya, "Apa iya?" Bung Karno mesti mengutus kawan-kawannya yang paling cakep untuk meyakinkan Nehru, "Ya, iya". Setelah Nehru dapat diyakinkannya, maka Tito, Nasser dan Chou En Lai tinggal bergabung saja.

Sayang sekali, kita tidak memahami visi Soekarno. Sedemikian rupanya kita tidak memahami visi beliau, sehingga terciptalah keraguan dalam diri beliau, dalam batin beliau. Dan, hanya 3-4 tahun setelah Konperensi di Bandung, beliau pun barangkali mulai meragukan visinya sendiri. "Barangkali" saya katakan, karena demikianlah "penangkapan" saya dari puluhan literatur yang saya baca tentang kejadian-kejadian antara tahun 1955 hingga 1965.

Sekarang, saatnya kita kembali memahami visi Bung Karno: Persatuan antara Negara-negara Asia dan Afrika. Saatnya juga kita menempatkan Pak Harto pada perspektif sejarah yang benar. Visi beliau tentang ASEAN adalah sebuah "kompromi" atas visi Asia-Afrika Bung Karno. Asia-Afrika dipersatukan oleh Pengalaman Sejarah "Penderitaan" ketika dijajah oleh Negara-negara barat -- inilah visi Bung Karno.

Negara-negara Asia Tenggara dipersatukan oleh "Pembangunan Integral" di wilayah ini dengan memperhatikan sumber alam, sumber daya manusia, juga persamaan kultur dan budaya. Dalam kedua-dua visi tersebut, Peran Indonesia sebagai Motor Penggerak, bahkan sebagai "Bapak Gerakan" diakui oleh seluruh negara dan bangsa yang bergabung. Bung Karno adalah Arek Surabaya. Bahasanya ceplas-ceplos.

Jika tidak suka dengan kebijakan luar negeri Paman Sam, maka ia pun meneriaki dia, "Go to Hell!" Pak Harto adalah Wong Solo, halus. Sudah gondok pun masih bisa senyum. Ya, saya ingin berandai-andai, saya ingin mengatakan bahwa sesungguhnya Pak Harto pun mulai gondok dengan kebijakan luar negeri dan kebijakan ekonomi Paman Sam yang sangat mempengaruhi kebijakan negara-negara lain di barat. Bedanya dengan Bung Karno, beliau sudah telanjur tergantung pada Barat. Bung Karno belum.

Kesadaran akan ketergantungan inilah yang melahirkan dan memperkuat ASEAN dari tahun ke tahun. Mahathir yang dianggap arogan oleh Paman Sam pun menghormati Pak Harto. Pil ini terasa sangat pahit untuk ditelan, Paman Sam tentu tidak menyukainya. Tumbangnya Bung Karno di mana peran Pak Harto masih diperdebatkan seberapa besar atau seberapa kecil -- bagaimana pun juga jelas dengan restu Paman Sam dan sekutunya. Lengsernya Pak Harto juga sama. Sejarah terulangi. Di balik kedua peristiwa tersebut, adalah kepentingan ekonomi yang menjadi pertimbangan. Tidak ada pertimbangan- pertimbangan lain.

Apalagi kepentingan Rakyat Indonesia -- sama sekali tidak. Visi Bung Karno adalah Visi Harga Diri dan Martabat Manusia Indonesia. Persatuan Asia dan Afrika dijadikannya sebuah misi untuk mencapai visi tersebut. Ketergantungan pada Paman Sam atau siapapun jua menjadi penghalang bagi tercapainya misi tersebut -- maka penghalang itu, rintangan itu mesti disingkirkan.

Adalah kesalahan kita jika kita menganggap penyingkiran tersebut adalah terhadap Dunia Barat, terhadap masyarakat Amerika dan Barat. Penghalang atau rintangan itu adalah pola pikir Paman Sam, kebijakan luar negeri serta ekonominya. Dan, pola pikir serta kebijakan itulah yang diserang oleh Bung Karno, dan mulai ditolak oleh Pak Harto. Bung Karno sudah tidak bersama kita. Pak Harto sudah menjadi bagian dari sejarah kita. Sekarang, apa yang mesti kita lakukan? Memahami visi mereka, mempelajari kegagalan-kegagalan mereka dan tidak terjebak dalam romantisme mengagung-agungkan atau menghujat mereka -- atau mengembangkan visi baru. Namun untuk itu, saat ini adalah seorang visioner di antara kita?

Jika ingin melanjutkan visi Bung Karno dan Pak Harto -- maka kita harus memusatkan seluruh energi kita pada kemandirian. Kita mesti melepaskan diri dari ketergantungan. Hal ini sudah tidak mudah. Kita sudah melakukan sekian banyak kesalahan sehingga melepaskan diri dari ketergantungan dapat menimbulkan gejolak sosial, kecuali "seluruh bangsa ini menjadi sadar dan siap untuk berkorban". Pertama: Hentikan Impor Pangan, buah-buahan segar dan kaleng, sayuran dan sebagainya. Kita akan makan ketela, jagung, beras merah, apa saja -- tetapi Tidak Mau makan beras impor, buah-buahan impor dan sebagainya. Kedua: Bisnis Ritel harus dikuasai oleh orang Indonesia, mau keturunan Arab, Cina, India, bule, mau pribumi, non pri -- siapa saja boleh. Asal orang Indonesia. Segera hentikan pemberian izin kepada hypermarket yang berasal dari luar. Biarlah mereka mengembangkan bisnis-bisnis besar lainnya. Untuk bisnis ritel, kita harus kembali pada pola dan pasar tradisional kita yang mesti di upgrade dan diperbaiki. Ketiga: Pembangunan Fisik harus merata di seluruh kepulauan.

Hentikan pembangunan pencakar langit dan gedung-gedung apartemen. Dengan cara itu kita akan memberdayakan perekonomian desa dan mencegah terjadinya urbanisasi secara berlebihan. Keempat: Investasi dari Luar dicarikan lapangan yang masih kosong, dan tidak dapat diolah dengan baik oleh orang-orang kita sendiri. Daripada mencari nasabah untuk kartu kredit dan menciptakan bangsa pengutang, silakan bank-bank asing membiayai industri-rumah dan sektor bisnis serupa lainnya. Bantulah para nelayan kita, para petani kita dengan kredit ringan. Untuk melaksanakan program-program ini, tentunya Pemerintah harus serius.

Para wakil rakyat harus memikirkan rakyat, bukan kantong serta kedudukan mereka. Awalnya barangkali mereka kehilangan popularitas, namun kehilangan popularitas itu jauh lebih baik daripada penilaian oleh generasi mendatang sebagai orang-orang yang tidak becus dan mencelakakan seluruh bangsa dan negara. Kelima: Hubungan Luar Negeri dengan negara-negara Asean, Asia Barat, Amerika Serikat dan siapa saja -- mesti berlandaskan asas kesetaraan. Kita tidak bisa didikte. Kita mesti memiliki keahlian di bidang diplomasi dan negosiasi.

Selamat buat Bung Karno, selamat buat Pak Harto -- dan salam Pancasila untuk kita semua... Namun ucapan selamat dan salam tidak berarti sama sekali jika kita tidak segera bangun, bangkit, dan mulai bekerja. Masih banyak pekerjaan rumah yang mesti diselesaikan!.
[endtext]
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Video Gpn - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger